Jika ide gila ini benar-benar terwujud, sepakbola akan jadi alat perdamainan sejati.
Gianni Infantino menjadi Presiden FIFA pertama yang mengunjungi Israel dalam lawatan resminya, Senin (11/10/2021). Dalam kunjungan tersebut, Infantino langsung menyarankan Israel menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama dengan negara-negara tetangga Arabnya, termasuk Palestina.
Kisah John Cofie, Eks Wonderkid Man United Kini Jadi Guru Sekolah
Kemungkinan Israel, Palestina, dan negara-negara lain di kawasan bersengketa itu menjadi tuan rumah Piala Dunia akan tampak luar biasa. Pasalnya, konflik di kawasan itu telah ada selama beberapa dekade, dengan perselisihan Israel-Palestina sebagai episentrumnya.
Bagaimana Kariernya? 3 Pemain yang Datang ke Chelsea Bareng Lampard
Piala Dunia 2030 yang ingin diberikan FIFA kepada Israel dan tetangganya sebenarnya juga diinginkan negara-negara di Amerika Selatan. Uruguay, Argentina, Paraguay, dan Chile mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama. Ada lagi Inggris dan Irlandia serta Portugal dan Spanyol. Begitu pula China.
NEWS | FIFA president Gianni Infantino has opened the door to a World Cup being held in Israel, Palestine and their Middle Eastern neighbours in the future.
— The Athletic UK (@TheAthleticUK) October 13, 2021
Butuh waktu dan dialog yang lebih komperehensif
Sayang, setiap niat baik tidak selalu mendapatkan tanggapan positif. Asosiasi Sepakbola Palestina (PFA) langsung memberikan respons keras atas partisipasi Presiden FIFA dalam acara di Israel. Tanpa melihat apa yang dikatakan Infantino, PFA menganggap kunjungan ke Israel sebagai penghinaan total terhadap nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan secara damai, seperti yang tertulis di statuta FIFA.
"Dia (Infantino) tidak menyampaikan pesan yang dinyatakannya mengenai nilai-nilai sistem sepakbola internasional," bunyi pernyataan resmi PFA, dilansir Al Jazeera Sport.
Salah satu keberatan PFA adalah Infantino mengunjungi lokasi yang disebut sebagai Museum Toleransi Israel, Menurut PFA, Infantino berpartisipasi dalam konferensi politik yang tidak ada hubungannya dengan olahraga. Selain itu, museum yang dikunjungi FIFA dibangun di atas pemakaman Muslim bersejarah di Yerusalem.
"FIFA melakukan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional, HAM, dan perasaan jutaan Muslim di dunia. Mempolitisasi olahraga tidak akan menghasilkan perdamaian," bunyi pernyataan lanjutan PFA.
PFA juga menentang rencana FIFA menjadikan Israel tuan rumah Piala Dunia. Mereka beranggapan Israel memiliki rekam jejak mengebom stadion olahraga di Palestina, mencegah pemain sepakbola dari Jalur Gaza untuk berlatih dan bermain dengan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, dan telah menargetkan serta menangkap pemain sepak bola.
"Kami berharap kunjungan ini akan menjadi awal untuk mengakhiri penderitaan para pemain Palestina dan tindakan pendudukan yang bertujuan untuk menghambat penyebaran dan pengembangan permainan di wilayah Palestina, dan bukan untuk mendukung kelompok Zionis," ungkap PFA.
Pro-Palestine activists gathered on Saturday outside Hampden Park in Glasgow ahead of Scotland’s World Cup qualifier match with Israel to express their resentment over Israeli human rights violations in occupied Palestine. #FreePalestine ?? pic.twitter.com/XJzhSvsEq7
— Palestinian Return Centre (@prclondon) October 10, 2021