Pertanyaannya, apakah Barcelona kembali ke pakem 4-3-3 atau 3-4-3 seperti Al Sadd?
Xavi menghabiskan 25 tahun di Barcelona dan pergi pada usia 35 tahun setelah memenangkan treble 2014/2015. Xavi pergi dengan kalimat "hasta luego" (sampai jumpa), bukan "adios" (selamat tinggal). Itu semacam rahasia yang tak terucapkan bahwa Xavi akan kembali suatu saat nanti.
Bagaimana Kariernya Sekarang? 21 Pemain Inggris Juara Piala Dunia U-17 2017
Pelatih berusia 41 tahun itu cenderung menggunakan formasi dengan tiga bek, baik 3-4-3 atau 3-5-2. Itu membuat penasaran banyak fans Barcelona karena tiki-taka selama ini identik dengan 4-3-3 atau 4-2-3-1. Selain itu, Presiden Barcelona, Joan Laporta, dikabarkan telah menginstruksikan pelatih Koeman untuk menggunakan formasi tersebut.
5 Transfer Terbaik Arsenal Setelah Era Arsene Wenger
"Yang paling penting adalah membuka lapangan, melebarkannya, selebar mungkin dan sedalam mungkin," ucap Xavi.
"Bola itu bukan bom. Itu adalah harta karun. Mereka seharusnya menikmati penguasaan bola. Pada akhirnya, menguasai bola adalah kecanduan. Hal terpenting dan terindah dalam sepakbola adalah menguasai bola dan menyerang dengannya," beber Xavi.
Koeman dipecat sebagian karena timnya tidak mampu menyajikan penampilan yang menghibur. Tim asuhannya terlihat tidak berdaya dalam penguasaan bola, tidak mampu menghancurkan pertahanan lawan secara konsisten tanpa mengandalkan momen ajaib. Sedangkan tim Xavi siap menciptakan peluang di setiap kesempatannya.
Siapa saja yang akan main di bawah arahan Xavi?
Jika Xavi tetap menggunakan sistem 4-3-3, dia harus memasangkan Eric Garcia dan Ronald Araujo di bek tengah. Garcia dapat melangkah dan bermain dengan nyaman di area tengah. Sementara Araujo memiliki kecepatan untuk membalas dan menghentikan serangan balik ke lawan.
Barcelona akan sedikit bermain melebar, dengan Ousmane Dembele dan Ansu Fati di sisi sayap ketika keduanya fit.
Jika dia memilih 3-4-3, itu akan memberi Barcelona kesempatan untuk menggunakan dua poros pertahanan. Pertama, Sergio Busquets dan Frenkie de Jong. Kedua, Pedri dan Gavi sebagai tunas hijau di lini tengah klub.
Tapi, pasti ada beberapa kelemahan. Dia tidak pernah berhasil memenangkan Liga Champions Asia. Itu masalah yang sama dengan Barcelona di Eropa selama setengah dekade terakhir. Timnya kalah 1-4 di leg pertama semifinal melawan Al-Hilal, dan menang 4-2 di leg kedua. Hasil itu tidak cukup untuk maju.
"Harapan untuk Al-Sadd selalu memenangkan liga. Di bawah Xavi, mereka memenangkan liga untuk pertama kalinya musim lalu dan mereka berada di posisi terdepan sekarang. Mereka tidak menganggapnya sebagai tantangan yang cukup dan ingin mencapai level Liga Champions Asia," kata pakar sepakbola Qatar, Sudesh Baniya, kepada podcast Siempre Positivo .
Laporta skeptis tentang kurangnya pengalaman Xavi di level yang lebih tinggi. Tapi, keputusasaan dan kurangnya pilihan kuat lainnya telah membawa Barcelona ke titik ini.
Lagipula masih harus dilihat bagaimana Xavi akan menangani mantan rekan-rekannya seperti Jordi Alba, Busquets, Gerard Pique, atau Sergi Roberto. Dan, apakah dia cukup berani untuk menghentikan mereka jika perlu. Di atas kertas, Xavi adalah orang yang membimbing Barcelona dengan tajam kembali ke jalan yang sangat ingin mereka jalani.
?Xavi Hernández
— Carlos García (@CarlosGarcia09) October 28, 2021
➡️Al Sadd 21/22
?❓FC Barcelona 21/22
⚽️1-3-4-3#FCBarcelona #Xavi pic.twitter.com/09FGivr9Qv