Libero.id - Tanpa banyak media yang menyoroti, karier pesepakbola muda asal Korea Selatan, Lee Kang-In di Valencia kini telah berakhir. Dan dengan cara seperti itu, mungkin klub yang kini diambil alih oleh Meriton Holdings itu berusaha untuk menyembunyikan aib. Mengapa demikian?
Pada satu waktu Valencia pernah mengeluarkan pernyataan resmi, “Salah satu landasan proyek Meriton Holdings sejak kedatangan mereka di Valencia CF sebagai pemegang saham mayoritas adalah komitmen terhadap talenta muda dari sistem Akademi VCF. Salah satu contohnya adalah karier Kang In hingga saat ini.”
Kalimat itu diposting di halaman resmi website pada 7 Juli 2020. Dan paradoks nya lebih dari satu tahun lewat satu bulan kemudian, Kang In dibiarkan pergi begitu saja dengan status transfer gratis untuk bergabung dengan RCD Mallorca.
?Kang In Lee ja és a Palma per convertir-se en nou jugador del @RCD_Mallorca
?? El mitjapunta de Corea del Sud arriba lliure del València pic.twitter.com/LAP35PEDF0
— Esports IB3 (@EsportsIB3) August 29, 2021
Padahal Valencia sempat menolak banyak tawaran dari klub-klub top Eropa, satu diantaranya Real Madrid, beberapa musim yang lewat, tepatnya 2018-18 Kang-In dipagari oleh Valencia dengan banderol 80 juta euro / Rp. 1,3 trilliun.
Dari yang semula bernilai tinggi kini dilepas begitu saja tanpa arti. Jelas sudah, betapa konyolnya Valencia dan betapa mereka telah mempermalukan diri mereka sendiri lebih jauh.
Mengapa Lee Kang-in dijual?
Lee Kang-In dilepas tepat pada saat klub bersiap untuk mengizinkan pemain-pemain veteran seperti Dani Parejo, Francis Coquelin, Geoffrey Kondogbia dan Rodrigo Moreno pergi dengan kesepakatan potongan harga.
Bintang-bintang yang menua dan dibayar lebih yang disebutkan memang harusnya segera jadi masa lalu. Masa depan terletak pada kepercayaan pemilik saham, Meriton yang konon mempercayai talenta muda yang mereka bawa, seperti Kang-In.
Tapi hal itu ternyata tak sepenuhnya benar.
Nyatanya Kang-In dipaksa keluar dari klub.
Apa-apa yang berubah dan terjadi pada Valencia saat ini merupakan satu simbol atau pertanda kekacauan manajemen klub semenjak diambil alih Meritons. Peter Lim, Anil Murthy, dan para petinggi Meritons lainnya dianggap gagal mengurus klub yang berjuluk Los Murcelagos itu.
Mereka telah membungkus visi jangka pendek dan berpura-pura fokus pada jangka panjang. Sama seperti penunjukan pelatih Javi Gracia. Dan sekarang, yang menjadi tumbal dari itu semua adalah Kang-In. Bakat muda yang pernah diperlakukan sebagai Mesias dan malah untuk dibuang sebelum ulang tahunnya yang ke-21.
Menakar Bakat Lee Kang-In
Pertanyaannya apakah Kang-In pernah bermain begitu baik, atau sekarang ia bermain dengan sangat buruk. Keduanya bukan pegangan, yang tepat adalah : Kang-In adalah bakat yang menjanjikan yang belum memenuhi potensi penuhnya. Dan sialnya saat ini, ia tidak sesuai dengan skema pelatih.
[ENG TRANS]
[#Kino] Congrats to Korea's runner up, Lee Kang In for getting the Golden Ball award!! You did well❣❣❣ I am so proud!!! pic.twitter.com/HEoabR4NNz
— 제시카 ?? CERBERUS (@Pastel_Shinki) June 16, 2019
Lee Kang-In yang bermain di posisi gelandang merupakan peraih Golden Ball di Piala Dunia U-20 yang digelar di Polandia pada tahun 2019 yang silam, ia berperan besar untuk Korea Selatan dalam mencapai final di kejuaraan tersebut.
(gigih imanadi darma/gie)
Kenalkan Kenzo Riedewald, Pemain Berdarah Suriname-Indonesia yang Siap Bela Timnas U-17
Bima Sakti berencana memasukan namanya ke timnas U-17.Profil Ellie Carpenter, Pemain yang Mampu Saingi Lemparan ke Dalam Pratama Arhan
Dia adalah pemain Timnas Wanita Australia...Profil Julian Schwarzer, Penjaga Gawang Filipina yang Kini Bermain Bersama Arema FC
Pernah bermain di Inggris bersama Fulham...Profil Amara Diouf, Pemain Muda Senegal yang Dianggap Sebagai The Next Sadio Mane
Pada Piala Dunia U-17 2023 Amara Diouf bisa jadi ancaman berbahaya...
Opini