Bertemu di Roma, mereka jadi sahabat. Jika bukan karena Dzeko, tidak mungkin Schick tampil di Euro 2020.
Bertemu di Roma, mereka jadi sahabat. Jika bukan karena Dzeko, tidak mungkin Schick tampil di Euro 2020.
Seorang bintang telah lahir. Awalnya, diremehkan. Akhirnya, jadi pahlawan yang dipuja seluruh negeri.
Mendatangkan pemain dari kompetisi Italia seperti jadi tradisi. Siapa saja mereka? Daftarnya sangat panjang.
Kisah Tyron Mings paling menyentuh.
Semua demi Christian Eriksen.
Meski sebagai pemain tengah, gelandang Sassuolo itu tak kalah produktif.
Gareth Bale melakukan aksi ceroboh saat penalti.
Lionel Messi menjadi satu-satunya legenda yang masih aktif bermain.
Diklaim mirip Kalvin Phillips dan Reece James.
Enrique pernah ikuti perlombaan penghancur tulang.
Masih ada rekor lain yang dapat dipecahkan CR7.
Hanya ada satu pemain yang lanjut ke Euro 2020. Sisanya, hanya menjadi pemain di klub medioker.
Sekarang giliran Vietnam. Dulu, Thailand juga masuk fase akhir menuju Piala Dunia 2002 dan 2018. Ternyata, Indonesia juga pernah.
Ada yang sampai 40 juta kali lebih diputar. Ada yang 30 jutaan juga. Ini daftarnya.
Denmark boleh saja memenangkan Euro 1992. Tapi, cara mereka dikritik. Mirip Yunani pada 2004.
Paul The Octopus yang paling sukses meramal hasil Piala Dunia 2010. Lalu, bagaimana dengan Euro 2020?
Ini seperti PSSI di era Nurdin Halid. Hasil bagus di lapangan dianggap prestasi kelompok politik tertentu.
Messi berada di posisi ke-2, lalu siapa yang berada di posisi pertama ?
Dulu andalkan naturalisasi, kini bertumpu pemain lokal. Mereka produk Aspire Academy.
Di posisi kiper ada Marc Andre ter Stegen, di posisi striker berdiri Zlatan Ibrahimovic.